20 September 2026

Kisah KWT Embun Pagi dan Rumah Produksi Baru di Simpang Bayat

Oleh : Waluyo

Pemimpin Redaksi

Di Desa Simpang Bayat Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan aroma singkong yang selama ini hanya berputar di ladang kini mulai berubah menjadi harapan baru. Bagi para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, kehadiran sebuah bangunan rumah produksi bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan simbol perjuangan mereka untuk mengubah potensi lokal menjadi kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Kisah ini mencapai babak barunya ketika rumah produksi KWT Embun Pagi diresmikan secara resmi. Momen potong tumpeng yang dilakukan oleh Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio Nursabdo, bersama Camat Bayung Lencir, Zukar, SKM., M.Si., menandai dimulainya fase pemberdayaan yang lebih terstruktur. Peresmian ini disaksikan langsung oleh jajaran pemerintah desa, perangkat kecamatan, hingga perwakilan media, menjadi saksi bisu bahwa upaya warga desa kini mendapat dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan.

Bagi Riyanti, Ketua KWT Embun Pagi, momen ini adalah buah dari kerja keras dan kolaborasi yang telah lama dibangun. Ia mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada PHE Jambi Merang. Dukungan yang diberikan tidak bersifat instan, melainkan melalui proses panjang mulai dari bantuan peralatan, berbagai pelatihan keterampilan, hingga akhirnya terbangunnya rumah produksi ini.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan. Khususnya kepada tim PHE Jambi Merang yang selama ini telah bekerja sama dan memberikan berbagai bantuan kepada KWT Embun Pagi,” ujar Riyanti dengan nada harap.

Namun, bagi Riyanti dan anggotanya, peresmian ini bukanlah garis finis. Ia justru melihatnya sebagai起点 (titik awal) untuk melangkah lebih jauh. Ia berharap produk olahan singkong mereka, termasuk tepung mocaf yang menjadi unggulan, tidak lagi terjebak sebagai komoditas lokal semata. “Kami berharap produk kami bisa dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tetapi juga di daerah lain. Kami mohon terus diberikan bimbingan, pembinaan dan dukungan,” imbuhnya, menyiratkan keinginan kuat untuk menembus pasar yang lebih luas dengan bantuan pemerintah kecamatan dan desa.

Senada dengan harapan ketua kelompoknya, Kepala Desa Simpang Bayat, Fathurohman, S.E., memandang rumah produksi ini sebagai katalisator ekonomi desa. Ia menegaskan bahwa singkong yang diolah berasal murni dari masyarakat lokal. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk, sehingga nilai jualnya pun ikut terangkat.

“Harapan kami, produk olahan dari Desa Simpang Bayat ini tidak hanya menjadi produk lokal, tetapi dapat dipasarkan lebih luas dan memiliki nilai ekonomi yang semakin baik,” jelas Fathurohman. Ia mengapresiasi langkah PHE Jambi Merang yang tidak hanya memberi bantuan fisik, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan melalui pelatihan.

Dari sisi perusahaan mitra, R. Satrio Nursabdo menekankan bahwa rumah produksi ini adalah sebuah milestone atau tonggak penting. Menurutnya, masyarakat Simpang Bayat sebenarnya sudah memiliki modal sosial berupa pengalaman mengolah singkong. Tugas perusahaan hanyalah memicu (trigger) potensi tersebut agar berkembang menjadi ekonomi yang mandiri.

“Pemberdayaan masyarakat harus berkelanjutan. Kami hanya menjadi pemicu atau trigger, sementara pengembangannya membutuhkan kolaborasi pemerintah desa, kecamatan, masyarakat dan stakeholder lainnya,” tegas Satrio. Ia mengingatkan bahwa program pemberdayaan tidak boleh berhenti pada seremonial peresmian, melainkan harus berlanjut pada penguatan kapasitas, produksi, dan pemasaran.

Tantangan terbesar ke depan, sebagaimana disampaikan Camat Bayung Lencir Zukar, SKM., M.Si., adalah inovasi dan identitas. Zukar mengajak KWT Embun Pagi untuk berpikir melampaui batas tradisional. “Jangan hanya singkong menjadi singkong, tetapi harus bisa diolah menjadi berbagai produk makanan. Inilah bentuk inovasi,” katanya.

Zukar juga menyoroti pentingnya kemasan dan pemasaran digital. Di era modern, kualitas produk saja tidak cukup; cara penyajian dan promosi menjadi kunci agar produk lokal mampu bersaing di minimarket atau gerai-gerai modern. Ia bahkan menyarankan agar rumah produksi ini kelak dikembangkan menjadi konsep gerai pemasaran, sehingga akses masyarakat terhadap produk olahan singkong menjadi lebih mudah.

Dengan dukungan sarana produksi yang memadai, peningkatan kapasitas SDM, serta strategi pemasaran yang inovatif, KWT Embun Pagi kini memegang kendali atas nasib ekonominya sendiri. Kisah mereka di Simpang Bayat adalah bukti nyata bahwa ketika potensi lokal bertemu dengan dukungan yang tepat dan semangat kemandirian, singkong pun bisa bertransformasi menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan.